Wednesday, May 5, 2010

Orang Gila

Yep, blog ini saya buka dengan mengulas cerita tentang orang gila

(teman saya, dokter Sammy pernah protes,"Nggak boleh bilang 'orang gila', istilah yang bener harusnya 'tidak waras'..." - Ah, sudahlah... Buat kita orang awam mah, sama aja artinya ya!)

Toko kecil saya berlokasi cukup dekat dengan sebuah pasar tradisional. Mungkin ini yang bikin banyak orang gila betah gentayangan di daerah sini. Banyak sisa-sisa makanan yang bisa mereka ambil dari kedai-kedai di pasar.

Heran juga ya, walaupun makan sembarangan, kadang telanjang, tidur dimana aja, nggak mandi, tapi sepertinya mereka sehat-sehat aja. Tetap riang gembira menjalani hidup. Sementara kita yang dibilang waras malah seringkali depresi menghadapi realita kehidupan.

Kayaknya ada korelasi aneh antara kehadiran para orang gila ini dengan larisnya toko saya. Sejauh pengamatan saya selama ini, setiap ada orang gila berkeliaran, mendadak toko saya jadi rame, banyak yang belanja. Maka dari itulah, saya akhirnya berkesimpulan, bisa jadi sebenarnya orang gila itu adalah penjelmaan dari dewa uang :P

Para orang gila ini hadir dalam bentuk yang amat beraneka ragam.

Ada ibu-ibu agak botak tapi gondrong (maksudnya begini: bagian ubun-ubunnya botak tapi selebihnya gondrong). Penampilannya sih cukup bisa dibilang normal cuman agak kumuh. Beliau senang sekali ngajak senyum setiap orang yang dia jumpai. Walau kebanyakan kalo nggak bisa dibilang hampir semua orang yang diajak senyum pasti beringsut menjauh dengan tampang bingung dan agak takut.

Ada beberapa orang gila yang setipe. Yaitu berbentuk pemuda yang sering hilir mudik tanpa busana. Mereka sih nggak pernah berjalan bareng-bareng, dan saya belum pernah menemukan ada dua orang gila laki-laki telanjang ini dalam sehari. Selalu hanya satu sehari. Mau hujan, mau panas, mereka selalu berjalan dengan gagah berani.

Sampai saat ini saya baru sekali menemukan orang gila wanita yang berani bugil.

Ada satu gadis muda. Sepertinya sih tidak terlalu gila, mungkin hanya agak terganggu pikirannya. Bajunya rapih. Setiap lewat depan toko, dia selalu teriak-teriak dengan suara melengking. Lalu kejadian berikutnya, teriakan itu akan diresponi oleh tukang parkir, tukang becak, tukang ojek, dan abang-abang lainnya dengan teriakan juga. Bersahut-sahutan. Meriah sekali.

Untungnya, selama ini mereka cuman lewat-lewat aja atau paling banter mejeng di depan toko saya...


Sampai sekali waktu, ada seorang pemuda yang berpenampilan amat normal. Masuk ke toko dan diam di depan tempat kasir dimana saya duduk. Sebagai seorang pemilik toko yang baik, tentunya saya menyapa beliau dan bertanya apa yang bisa kami bantu. Dia hanya senyum-senyum.

Lama-lama koq nakutin ya?

Seorang pelanggan ternyata mengenali pemuda ini sebagai orang yang emang terganggu pikirannya, untungnya dia mau digiring keluar toko...

Ya mungkin aja mereka adalah penjelmaan dewa uang, tapi ga perlu dong sampe masuk ke dalem toko saya segala...

No comments:

Post a Comment