Monday, August 30, 2010

A Mystical Experience

Di suatu hari yang sangat biasa, kesibukan yang biasa-biasa saja, segala sesuatu berlangsung dengan amat sangat biasa...

Datanglah seorang ibu-ibu tua. Penampilannya sangat-sangat tua. Dengan berkerudung, muka yang penuh keriput dan (maaf) agak lumayan jelek, (sekali lagi maaf kalo dibilang kurang sopan) cenderung agak mengerikan malah.

Tapi si ibu ini sangat baik, dengan logat Sunda yang ramah dia bilang dia membutuhkan kain imitasi. Kebetulan toko kami memang menyediakan banyak varian dan warna dari kulit-kulit imitasi pembungkus meubeul. Akhirnya dia memutuskan untuk memilih warna ungu terang sebanyak dua meter.

Kadang saya suka bertanya kepada para pembeli, untuk apa sebenarnya barang yang mereka beli. Maksud saya adalah supaya kualitas barang yang dibeli itu benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Kali ini pun saya sempatkan untuk bertanya kepada si ibu.

Jawabannya ternyata cukup mengherankan!

Si Ibu: "Buat bikin boneka-bonekaan!"

Engkoh Dede: "Boneka? (bingung) Boneka apaan sih, Bu?"

Si Ibu: "Buat gantiin mayat..."

(hening)

Sejenak seluruh orang yang ada di toko Padasuka diam dan memandang si Ibu dengan pandangan aneh...

Si Ibu: "Ayo, potong aja dua meter"

Pegawai saya cepat-cepat mengukur dan memotong kain imitasi warna ungu terang itu, memberikannya kepada saya untuk dibungkus kresek. Saya berikan pada si ibu sambil saya ucapkan terimakasih banyak.

Setelah si ibu pergi, langsunglah semua bertanya-tanya dan menduga-duga apakah profesi si ibu itu sebenarnya. Saya sih berkesimpulan mungkin si ibu adalah seorang dukun, mengingat bentuk dan rupa fisik si ibu yang cukup creepy (maaf).

Seorang langganan: "Kalo dukun kenapa milih imitasinya warna ungu jrengg?!!"

Engkoh Dede: "Yee, emang dukun jaman sekarang ga boleh imut?"

Yang terbayang oleh saya adalah ruangan dukun, penuh barang-barang antik dan tua, tetapi dengan warna-warna interior ala Barbie. Bisa jadi di atas lemari ada sebuah tengkorak bersanding dengan boneka Hello Kitty... dan si ibu... dengan tampang tua yang agak menyeramkannya itu (maaf) tersenyum imut... Aih!

Wednesday, May 5, 2010

Orang Gila

Yep, blog ini saya buka dengan mengulas cerita tentang orang gila

(teman saya, dokter Sammy pernah protes,"Nggak boleh bilang 'orang gila', istilah yang bener harusnya 'tidak waras'..." - Ah, sudahlah... Buat kita orang awam mah, sama aja artinya ya!)

Toko kecil saya berlokasi cukup dekat dengan sebuah pasar tradisional. Mungkin ini yang bikin banyak orang gila betah gentayangan di daerah sini. Banyak sisa-sisa makanan yang bisa mereka ambil dari kedai-kedai di pasar.

Heran juga ya, walaupun makan sembarangan, kadang telanjang, tidur dimana aja, nggak mandi, tapi sepertinya mereka sehat-sehat aja. Tetap riang gembira menjalani hidup. Sementara kita yang dibilang waras malah seringkali depresi menghadapi realita kehidupan.

Kayaknya ada korelasi aneh antara kehadiran para orang gila ini dengan larisnya toko saya. Sejauh pengamatan saya selama ini, setiap ada orang gila berkeliaran, mendadak toko saya jadi rame, banyak yang belanja. Maka dari itulah, saya akhirnya berkesimpulan, bisa jadi sebenarnya orang gila itu adalah penjelmaan dari dewa uang :P

Para orang gila ini hadir dalam bentuk yang amat beraneka ragam.

Ada ibu-ibu agak botak tapi gondrong (maksudnya begini: bagian ubun-ubunnya botak tapi selebihnya gondrong). Penampilannya sih cukup bisa dibilang normal cuman agak kumuh. Beliau senang sekali ngajak senyum setiap orang yang dia jumpai. Walau kebanyakan kalo nggak bisa dibilang hampir semua orang yang diajak senyum pasti beringsut menjauh dengan tampang bingung dan agak takut.

Ada beberapa orang gila yang setipe. Yaitu berbentuk pemuda yang sering hilir mudik tanpa busana. Mereka sih nggak pernah berjalan bareng-bareng, dan saya belum pernah menemukan ada dua orang gila laki-laki telanjang ini dalam sehari. Selalu hanya satu sehari. Mau hujan, mau panas, mereka selalu berjalan dengan gagah berani.

Sampai saat ini saya baru sekali menemukan orang gila wanita yang berani bugil.

Ada satu gadis muda. Sepertinya sih tidak terlalu gila, mungkin hanya agak terganggu pikirannya. Bajunya rapih. Setiap lewat depan toko, dia selalu teriak-teriak dengan suara melengking. Lalu kejadian berikutnya, teriakan itu akan diresponi oleh tukang parkir, tukang becak, tukang ojek, dan abang-abang lainnya dengan teriakan juga. Bersahut-sahutan. Meriah sekali.

Untungnya, selama ini mereka cuman lewat-lewat aja atau paling banter mejeng di depan toko saya...


Sampai sekali waktu, ada seorang pemuda yang berpenampilan amat normal. Masuk ke toko dan diam di depan tempat kasir dimana saya duduk. Sebagai seorang pemilik toko yang baik, tentunya saya menyapa beliau dan bertanya apa yang bisa kami bantu. Dia hanya senyum-senyum.

Lama-lama koq nakutin ya?

Seorang pelanggan ternyata mengenali pemuda ini sebagai orang yang emang terganggu pikirannya, untungnya dia mau digiring keluar toko...

Ya mungkin aja mereka adalah penjelmaan dewa uang, tapi ga perlu dong sampe masuk ke dalem toko saya segala...

Prelude

Toko Padasuka

Sebuah toko yang awalnya tak bernama...


Orang tua saya menjalankan bisnis eceran bahan-bahan meubeul semenjak saya masih di Sekolah Dasar. Awalnya sih mereka pernah jualan kelontongan, alat-alat tulis, onderdil mobil, tapi seiring dengan perkembangan waktu dan permintaan pasar, berangsur-angsur toko kami berubah jadi mengkhususkan menjual peralatan untuk membuat / mereparasi kursi - sofa dan sejenisnya.

Ayah saya meninggal dunia pada tahun 1997. Mulai saat itulah saya menggantikan posisi beliau dan mendapatkan identitas baru sebagai 'Engkoh Dede' si pemilik toko :D

Banyak hal yang terjadi di toko kami dan sekelilingnya. Kadang aneh tapi nyata, kadang mengharukan, mendebarkan, kadang ajaib dan tidak masuk akal. Hal-hal kecil yang sedikit banyak membuat hidup saya lebih berwarna.